HestY TaNjung. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

CAHAYA MUTIARA HIDUP --- KUMPULAN ARTIKEL


HIKMAH DIBALIK BALA' YG MENIMPA MANUSIA

Manusia berbeda-beda dalam menyikapi bala' yang menimpanya. Ada yang menyikapinya secara positif, ada yang sebaliknya. Namun, ada satu poin paling jelas yang menjadi benang merahnya, yaitu bahwa setiap hamba Allah akan mengalami ujian dari Allah Swt, entah itu seorang biasa ataupun seorang pilihan Allah. 

Perhatikan ayat-ayat Allah berikut ini:

"Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan" (Surah al-Anbiya' 35)

"Dan sungguh Kami akan menguji kalian hingga Kami mengetahui siapa yang berjuang [di Jalan Kami] dan bersabar dari antara kalian..." (Surah Muhammad 31)

"Dia Yang Menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang terbaik amalannya" (Surah al-Mulk 2)

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja hanya dengan mengatakan 'Kami beriman' dan mereka tidak akan diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka..." (Surah al-'Ankabut 2-3)

Dan berikut ini ada sejumlah pernyataan Rasulullah saww dan Ahlul Bait a.s berkenaan dengan tema yang saya angkat ini:

1. Rasulullah saww: Kamu bukan seorang mukmin sebelum kamu menganggap bala' sebagai nikmat dan kesenangan sebagai ujian, karena bala' dunia akan menjadi nikmat di akhirat dan kesenangan dunia menjadi ujian di akhirat. (Biharul Anwar 67/237/54)

2. Imam Musa Kazhim a.s: Kalian tidak akan menjadi mukmin sebelum kalian menganggap bala' sebagai nikmat dan kesenangan sebagai musibah, dan itu karena kesabaran ketika bala' lebih agung dibandingkan dengan kelalaian ketika kesenangan. (Jami' al-Akhbar: 313/870)

3. Imam Ali a.s: Apabila kamu melihat Tuhanmu terus menerus menimpakan bala' atasmu maka bersyukurlah, dan apabila kamu melihat Tuhanmu terus menerus melimpahkan nikmat atasmu maka waspadalah. (Ghurar al-Hikam, hikmah 4082-4083)

4. Imam Ja'far Shadiq a.s: Bala' itu hiasan seorang mukmin dan kemuliaan bagi orang yang berakal, karena dengan bersabar dan tegar dalam menghadapinya akan meningkatkan derajat keimanan seseorang. (Muskin al-Fu'ad 58)

5. Rasulullah saww: Semakin mulia seorang hamba di sisi Allah sebanding dengan semakin banyak bala' yang menimpanya. (Da'aimul Islam 1/241)

6. Rasulullah saww: Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka Allah akan menimpakan bala' atas mereka. (Jami' al-Akhbar: 310/855)

7. Imam Ja'far Shadiq a.s: Sesungguhnya di bumi terdapat hamba-hamba pilihan Allah, apabila Allah menurunkan anugerah ke bumi maka Allah menjauhkannya dari mereka tapi Dia memberikannya kepada selain mereka. Namun, apabila Allah menurunkan bala' maka Dia menurunkannya atas mereka. (Biharul Anwar 67/207/8)

8. Imam Ja'far Shadiq a.s: Apabila Allah mencintai seseorang maka Allah akan menimpakan bala' atasnya, lalu ia tidak keluar dari suatu bencana kecuali ia akan jatuh di dalam bencana lain. (Biharul Anwar 82/148/32)

9. Imam Baqir a.s: Setiap kali bertambah keimanan seseorang maka bertambah pula kesempitan dalam penghidupannya. (Jami' al-Akhbar: 314/874)

10. Imam Baqir a.s: Allah menguji seseorang sesuai dengan kadar kecintaannya kepada Allah. (Biharul Anwar 67/236/54) 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

"BERBUAT BAIK KPD KEDUA ORG TUA" 

MENURUT IMAM JA'FAR SHADIQ A.S

Imam Ja'far Shadiq a.s ketika ditanya tentang maksud firman Allah dalam Surah al-Baqarah 83 "...dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua...", berkata, "Maksudnya kamu berhubungan baik dengan mereka, dan berikanlah apa yang menjadi kebutuhan mereka meskipun mereka memiliki banyak harta. Bukankah Allah berfirman [dalam Surah aali 'Imran 92], "Kamu tidak akan memperoleh kebaikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu sukai."

Sedangkan firman Allah yang berbunyi, "...jika salah seorang dari antara mereka berdua atau kedua-duanya mencapai usia tua, maka janganlah kamu mengeluarkan kata-kata yang menghina mereka berdua dan janganlah kamu membentak mereka berdua..." (Surah al-Isra' 23)
Maksudnya, jika mereka berdua menyakiti kamu maka janganlah kamu mengeluarkan kata-kata yang menghina mereka berdua, dan janganlah kamu membentak mereka berdua meskipun mereka memukul kamu.

Masih di ayat yang sama "dan bicaralah kepada mereka berdua dengan kata-kata mulia". Kata Imam Ja'far, "Jika mereka berdua memukul kamu maka ucapkanlah untuk mereka berdua: Semoga Allah mengampuni kalian berdua. Itulah yang dimaksud dengan kata-kata mulia dari kamu. 

Firman-Nya selanjutnya, "Dan rendahkanlah diri kamu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang...". Kata Imam Ja'far, "Hendaklah kamu memandang mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, janganlah kamu meninggikan suara kamu di atas suara mereka, janganlah kamu mengangkat tangan kamu di atas tangan mereka, dan janganlah kamu berjalan di depan mereka."
(Misykatul Anwar, Hasan bin Fadhl bin Hasan Tabarsi, hadits ke-863) 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 MENCINTAI ALLAH

Hampir setiap hamba Allah akan spontan menjawab pertanyaan: Apakah kamu mencintai Allah? Dengan sangat enteng si hamba Allah akan menjawab: Ya, aku mencintai Allah.

Ketika pertanyaan berikut diajukan: Apa buktinya kamu mencintai Allah? Jawabannya bisa berbeda-beda, tapi esensinya mungkin menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ya, sudah tentu itu sangat normatif.


Lalu kalau pertanyaan lebih fokus dan spesifik tentang sampai sejauh mana ia mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, maka ia akan gagap dan sulit menjawabnya.

Sebenarnya Allah Swt telah memberikan gambaran dan petunjuk tentang persoalan 'mencintai Allah' ini. 

Firman-Nya dalam Surah aali 'Imran ayat 31:
KATAKAN [WAHAI MUHAMMAD KEPADA UMATMU], JIKA KALIAN MENCINTAI ALLAH MAKA IKUTILAH AKU [MUHAMMAD] NISCAYA ALLAH MENCINTAI KALIAN DAN MENGAMPUNI DOSA-DOSA KALIAN...

Pesan sangat jelas dari ayat suci tersebut adalah 'mengikuti Muhammad saww' merupakan indikasi dan bukti paling jelas tentang 'mencintai Allah'.
Ayat suci tersebut juga menyatakan dengan sangat jelas bahwa siapa pun yang mengikuti Nabi Muhammad saww maka ia akan meraih CINTA ALLAH dan AMPUNAN ALLAH ATAS DOSA-DOSANYA.

Pertanyaannya: Sudahkah kita mengikuti Nabi Muhammad saww, dan sampai sejauh mana?

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban saya secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri …

Ma, Tuhan Berada dimana Sich?
(Mengenalkan Esensi Tuhan kepada Anak)

Dan Dia bersama Kalian dimanapun kalian berada” (QS al-Hadid : 4)
Katakan (wahai Muhamad): Tuhan itu Esa.” (QS al-Ikhlas : 1)

Rasa ingin tahu (hubbul istithla’) adalah merupakan salah satu fitrah manusia. Artinya manusia terlahir dengan memiliki salah satu ciri khas fitrah tersebut. Rasa ingin tahu akan sekelilinganya dan segala sesuatu yang dilihatnya. Rasa ingin tahu tersebut akan mencapai puncaknya sewaktu masa kanak-kanak. Hal ini wajar dikarenakan rasa ingin tahu mereka akan hal-hal yang baru bagi mereka.

Kadang orang tua merasa capek mengahadapi pertanyaan yang dilontarkan anak-anak kepadanya. Sebaiknya dan hendaknya orang tua tidak memarahi ataupun melarang anaknya untuk bertanya, karena jika demikian sama artinya dengan membunuh potensi dan kreatifitas yang terdapat pada anak-anak yang harus terus dikembangkan.

Anak-anak pada usia ini kadang-kadang menanyakan hal-hal yang tidak diduga oleh orang tuanya. Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang tua ketika menghadapi berbagai pertanyaan anak-anaknya, apakah anak harus dimarahi ataukah memberikan jawaban asal-asalan kepadanya, ataukah dibiarkan saja begitu saja? Kalau kita merujuk akal pikiran kita maka ketiga langkah tersebut semuanya adalah salah. Kita biasa melihat sebagian orang tua yang ketika anak bertanya ia langsung berkata: “Huss, jangan banyak tanya, diam kamu!”.

Orang tua hendaknya berusaha menjawab pertanyaan anak dengan bahasa yang dipahami mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ilmu psikologi pada usia kanak-kanak mereka lebih cepat memahami hal-hal yang bersifat inderawi. Berdasarkan hal ini, ketika anak kami bertanya: “Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban kami secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri. Kembali saya menjawab: “Benar Tuhan ada di mana-mana, akan tetapi tetap satu”, jelas saya.

Anak kami masih bingung ketika mendengar jawaban yang kami berikan kepadanya. Dan dari raut wajahnya masih terlihat rasa penasaran, ia masih berpikir bagaimana bisa, ‘ada di mana-mana tapi satu’.  Sewaktu kami melihatnya dalam keadaan termenung dan masih belum puas dengan jawaban kami, dengan penuh kasih sayang dan dengan bahasa yang semudah mungkin kami kembali melontarkan pertanyaan; “Wahai putriku sayang, kamu tahu matahari ada berapa? “Ya, ada satu”, jawabnya. Kami kembali bertanya: “Apakah matahari hanya ada di tempat kamu saja, atau di tempat temanmu (yang ada di negara) lainpun ada? “Tidak, di tempat lain pun ada”. “Wahai putriku, tadi kamu katakan matahari itu hanya ada satu, tapi di manapun kamu berada iapun ada. Nah Tuhan pun seperti itu, satu tapi ada di mana-mana”.

Catatan:
Tentu, kami tidak ingin mengatakan bahwa Tuhan persis seperti matahari, ini hanya untuk pendekatan saja. Dan kita menggunakan contoh (analogi) seperti ini hanya melihat dari segi ungkapan ‘satu tapi ada di mana-mana’ sehingga anak dapat memahaminya atau dalam terminologi ilmu logika disebut dengan “Pendekatan (pemahaman) hal yang non materi (Tuhan) dengan melalui hal yang materi atau inderawi” (taqribul ma’qul bil mahsus). Yang dalam kasus ini adalah matahari. Adapun untuk pendekatan yang lain kita bisa menggunakan analogi yang lain, seperti Allah tidak bertempat, Allah meliputi semuanya…dst.
(dari Artikel Islam Feminis - ED)
 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
HAL - HAL YANG DIBENCI ALLAH

Seandainya ada sejumlah orang membenci kita, mungkin tidak ada masalah selama kita meyakini bahwa Allah mencintai kita, walaupun kita perlu mengadakan introspeksi dan koreksi mengapa sejumlah orang itu membenci kita. Tapi celakanya, ada sebagian orang yang menganggap tiadanya kebencian manusia terhadap diri mereka mengindikasikan tiadanya juga kebencian Allah terhadap diri mereka.
Pertanyaan: Sesederhana itukah konklusinya, dan tepatkah? Lalu perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap apakah yang membuat Allah membenci kita? 

Semoga riwayat-riwayat berikut ini dari Rasulullah saww dan Ahlul Baitnya a.s dapat sedikit memberikan gambaran dan petunjuk praktis bagi kita:

1. Rasulullah saww: Sesungguhnya Allah Swt membenci setiap orang yang pintar dalam urusan dunia tapi jahil dalam urusan akhirat. (Kanzul 'Ummal, hadits 28982)

2. Imam Ali a.s: Sesungguhnya Allah Swt membenci orang yang panjang angan-angannya tapi buruk amalan-amalannya. (Ghurar al-Hikam, hikmah 3455)

3. Imam Ali Zainal Abidin a.s: Sesungguhnya Allah membenci orang yang kikir lagi suka meminta-minta. (Biharul Anwar 78/140/27)

4. Imam Baqir a.s: Sesungguhnya Allah Swt membenci orang tua yang jahil, orang kaya yang zalim, dan orang miskin yang angkuh. (Biharul Anwar 75/312/17)

5. Imam Ali a.s: Makhluk yang paling dibenci Allah adalah seorang tua pelaku zina. (Ghurar al-Hikam, hikmah 3119)

6. Imam Ali a.s: Makhluk yang paling dibenci Allah adalah orang yang suka melakukan ghibah. (Ghurar al-Hikam, hikmah 3128)

7. Imam Ali a.s: Hamba Allah yang paling dibenci oleh-Nya adalah orang yang hanya ingin memenuhi kebutuhan perut dan syahwat seksualnya. (Ghurar al-Hikam, hikmah 3294)

8. Rasulullah saww: Sesungguhnya makhluk yang paling dibenci Allah ada tiga, yaitu orang yang banyak tidur di siang hari dan tidak shalat malam [tahajud] sama sekali; orang yang banyak makan namun tidak membaca basmalah dan memuji-Nya ketika makan; dan orang yang banyak tertawa tanpa ada sebab yang membuatnya takjub. (Kanzul 'Ummal, hadits 21431)

9. Imam Ja'far Shadiq a.s: Sesungguhnya makhluk Allah yang paling dibenci adalah seorang hamba Allah yang lidahnya [ucapan-ucapan buruknya] ditakuti manusia lain. (Al-Kafi 2/323/4)

10. Rasulullah saww: Tidak ada sesuatu yang paling dibenci Allah dibandingkan dengan kekikiran dan keburukan akhlak, karena keduanya dapat merusak amalan sebagaimana lumpur dapat merusak madu. (Biharul Anwar 16/231/35)

11. Imam Ja'far Shadiq a.s: Sesungguhnya Allah membenci orang yang banyak tidur dan banyak menganggur. (Biharul Anwar 76/180/10)

12. Rasulullah saww: Tidak ada sesuatu yang paling dibenci Allah dibandingkan dengan perut [seorang manusia] yang selalu penuh dengan makanan dan minuman. ('Uyun Akhbar ar-Ridha 2/36/89)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------


‘Pengkhianatan terhadap Wanita’

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah…”. [At-Taghabun : 14]

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah…”. [QS at-Taghabun : 14, al-Qur’an dan terjemahnya, edisi revisi, DEPAG-RI, Mahkota Surabaya] 

Maksudnya, kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama. [penjelasan dari DEPAG]

Terjemahan di atas dikutip dari terjemahan Depag. Transliting memerlukan keahlian terkhusus dalam kedua bahasa, yaitu bahasa yang diterjemahkan dan bahasa yang menerjemahkan. Dan tidak sembarangan orang dapat menerjemahkan sebuah teks ataupun buku, apalagi berkaitan dengan kitab suci yang menjadi pegangan sebuah agama atau sekte.

Terjemahan ayat di atas telah menarik perhatian, dan melihat pula teks asli ayatnya yang masih berbahasa Arab. Khususnya pada ungkapan “istri-istrimu”, dimana berdasarkan ayat di atas -tentunya masih merujuk pada terjemahan versi DEPAG- bahwa hanya istri saja yang bisa menjadi musuh dan menjerumuskan seorang suami untuk melakukukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. 

Sementara berkaitan dengan suami tidak disinggung sama sekali dalam ayat tersebut. Dengan kata lain suami tidak pernah menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya untuk melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Kesimpulan ini dapat kita tarik tatkala merujuk terjemahan versi DEPAG-RI di atas.

Namun terdapat kesimpulan lain yang bisa kita ambil dengan mengkritisi pola penterjemahan di atas:
Pertama: Asal kata yang kemudian dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan ‘istri-istri’ ialah ‘azwaj’ bentuk plural (jamak) dari kata ‘zauj’. Dalam ensklopedia bahasa karya Raghib al-Isfahani, beliau menjelaskan bahwa kata ‘zauj’ artinya ialah ‘pasangan’ yang bisa digunakan untuk benda seperti sepasang sepatu, untuk hewan seperti sepasang ayam (jantan dan betina), dan untuk manusia seperti suami dan istri. Hal inipun dikuatkan pula oleh Allamah Thabathabai mufassir kontemporer dalam karyanya tafsir al-Mizan. 

Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas, sepatutnya terjemahan ayat di atas akan menjadi seperti ini: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara pasangan-pasangan kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah…”.

Konklusi berdasarkan terjemahan di atas, sebagaimana sewaktu-waktu seorang istri akan bisa menjadi musuh dan menjerumuskan suami-nya ke dalam perbuatan yang tidak dibenarkan agama, begitu juga sebaliknya , seorang suami pun akan bisa menjadi musuh dan menjerumuskan istri-nya ke dalam perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Kesimpulan ini diambil karena kata ‘azwaj’ diartikan ‘pasangan-pasangan’, bukan hanya diartikan untuk istri saja. Dan sebagaimana kita tahu, pasangan dalam bahasa Indonesia pun digunakan untuk laki-laki dan perempuan (suami dan istri).

Kedua: Dalam realitanya apakah hanya istri saja yang menjadi musuh dan bisa menjerumuskan suaminya? Apakah tidak ada suami yang menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya? Contoh gampangnya, Fir’aun suaminya Asiah. Atau para suami lainnya yang pada zaman sekarang ini telang melarang istrinya untuk mengenakan hijab (jilbab), padahal berbusana muslim merupakan perintah agama. Bisa kita lihat diberita ada suami yang menjual istrinya. Lantas apakah mereka (suami-suami tadi) bukan menjadi musuh bagi istrinya dalam ketatan kepada Allah SWT?

Ketiga: Apabila alasannya menerjemahkan kata tersebut dikarenakan kata ‘azwaj’ digandengkan dengan kata ganti jamak untuk laki-laki (‘kum’, dhamir jamak mudzakar) sehingga menjadi ‘azwajikum’, maka jawabnya ialah; dalam kaidah bahasa Arab (nahwu) ketika audiennya terdiri dari laki-laki dan perempuan maka akan menggunakan kata ganti jamak untuk laki-laki, walaupun jumlah mereka satu berbanding sepuluh. Maksudnya sepuluh perempuan dan seorang laki-laki.

Keempat: Audien ayat di atas adalah orang-orang yang beriman ‘Wahai orang-orang yang beriman…’ dan kita ketahui bahwa orang-orang yang beriman bukan monopoli laki-laki semata. Dan kalau alasannya lagi karena seruan di atas menggunakan kata ganti jamak mudzakar maka jawabannya seperti jawaban pada poin ketiga di atas. Dan selain itupun, beberapa perintah Allah menggunakan seruan seperti ayat tadi, yang maksudnya seruan tersebut ditujukan untuk laki-laki dan perempuan yang beriman. Hal itu dapat kita jumpai seperti pada ayat yang berkaitan dengan perintah puasa dan ayat-ayat lainnya.

Dari sini, demi menjaga amanat dakwah ajaran Ilahi, hendaknya DEPAG merevisi kembali penerjemahan versinya. Karena jika tidak, maka hal itu selain akan berimbas kepada ‘penyesatan pemahaman’ seseorang sewaktu mengkaji al-Quran, juga bertentangan dengan ‘amanat penerjemahan’, apalagi ini berkaitan dengan kitab suci al-Quran. Ini adalah sedikit contoh dari kerancuan penerjemahan versi DEPAG-RI. Kita berharap, ke depan, semoga DEPAG lebih teliti dalam menerjemahkan al-Quran al-Karim, kitab suci kaum muslimin.
(Dari Artikel Islam Feminis- ED)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS