HIKMAH DIBALIK BALA' YG MENIMPA MANUSIA
Manusia berbeda-beda dalam menyikapi bala' yang menimpanya. Ada yang menyikapinya secara positif, ada yang sebaliknya. Namun, ada satu poin paling jelas yang menjadi benang merahnya, yaitu bahwa setiap hamba Allah akan mengalami ujian dari Allah Swt, entah itu seorang biasa ataupun seorang pilihan Allah.
Perhatikan ayat-ayat Allah berikut ini:
Perhatikan ayat-ayat Allah berikut ini:
"Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan" (Surah al-Anbiya' 35)
"Dan sungguh Kami akan menguji kalian hingga Kami mengetahui siapa yang berjuang [di Jalan Kami] dan bersabar dari antara kalian..." (Surah Muhammad 31)
"Dia Yang Menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang terbaik amalannya" (Surah al-Mulk 2)
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja hanya dengan mengatakan 'Kami beriman' dan mereka tidak akan diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka..." (Surah al-'Ankabut 2-3)
Dan berikut ini ada sejumlah pernyataan Rasulullah saww dan Ahlul Bait a.s berkenaan dengan tema yang saya angkat ini:
1. Rasulullah saww: Kamu bukan seorang mukmin sebelum kamu menganggap bala' sebagai nikmat dan kesenangan sebagai ujian, karena bala' dunia akan menjadi nikmat di akhirat dan kesenangan dunia menjadi ujian di akhirat. (Biharul Anwar 67/237/54)
2. Imam Musa Kazhim a.s: Kalian tidak akan menjadi mukmin sebelum kalian menganggap bala' sebagai nikmat dan kesenangan sebagai musibah, dan itu karena kesabaran ketika bala' lebih agung dibandingkan dengan kelalaian ketika kesenangan. (Jami' al-Akhbar: 313/870)
3. Imam Ali a.s: Apabila kamu melihat Tuhanmu terus menerus menimpakan bala' atasmu maka bersyukurlah, dan apabila kamu melihat Tuhanmu terus menerus melimpahkan nikmat atasmu maka waspadalah. (Ghurar al-Hikam, hikmah 4082-4083)
4. Imam Ja'far Shadiq a.s: Bala' itu hiasan seorang mukmin dan kemuliaan bagi orang yang berakal, karena dengan bersabar dan tegar dalam menghadapinya akan meningkatkan derajat keimanan seseorang. (Muskin al-Fu'ad 58)
5. Rasulullah saww: Semakin mulia seorang hamba di sisi Allah sebanding dengan semakin banyak bala' yang menimpanya. (Da'aimul Islam 1/241)
6. Rasulullah saww: Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka Allah akan menimpakan bala' atas mereka. (Jami' al-Akhbar: 310/855)
7. Imam Ja'far Shadiq a.s: Sesungguhnya di bumi terdapat hamba-hamba pilihan Allah, apabila Allah menurunkan anugerah ke bumi maka Allah menjauhkannya dari mereka tapi Dia memberikannya kepada selain mereka. Namun, apabila Allah menurunkan bala' maka Dia menurunkannya atas mereka. (Biharul Anwar 67/207/8)
8. Imam Ja'far Shadiq a.s: Apabila Allah mencintai seseorang maka Allah akan menimpakan bala' atasnya, lalu ia tidak keluar dari suatu bencana kecuali ia akan jatuh di dalam bencana lain. (Biharul Anwar 82/148/32)
9. Imam Baqir a.s: Setiap kali bertambah keimanan seseorang maka bertambah pula kesempitan dalam penghidupannya. (Jami' al-Akhbar: 314/874)
10. Imam Baqir a.s: Allah menguji seseorang sesuai dengan kadar kecintaannya kepada Allah. (Biharul Anwar 67/236/54)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sedangkan firman Allah yang berbunyi, "...jika salah seorang dari antara mereka berdua atau kedua-duanya mencapai usia tua, maka janganlah kamu mengeluarkan kata-kata yang menghina mereka berdua dan janganlah kamu membentak mereka berdua..." (Surah al-Isra' 23)
Maksudnya, jika mereka berdua menyakiti kamu maka janganlah kamu mengeluarkan kata-kata yang menghina mereka berdua, dan janganlah kamu membentak mereka berdua meskipun mereka memukul kamu.
Masih di ayat yang sama "dan bicaralah kepada mereka berdua dengan kata-kata mulia". Kata Imam Ja'far, "Jika mereka berdua memukul kamu maka ucapkanlah untuk mereka berdua: Semoga Allah mengampuni kalian berdua. Itulah yang dimaksud dengan kata-kata mulia dari kamu.
Firman-Nya selanjutnya, "Dan rendahkanlah diri kamu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang...". Kata Imam Ja'far, "Hendaklah kamu memandang mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, janganlah kamu meninggikan suara kamu di atas suara mereka, janganlah kamu mengangkat tangan kamu di atas tangan mereka, dan janganlah kamu berjalan di depan mereka."
(Misykatul Anwar, Hasan bin Fadhl bin Hasan Tabarsi, hadits ke-863)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hampir setiap hamba Allah akan spontan menjawab pertanyaan: Apakah kamu mencintai Allah? Dengan sangat enteng si hamba Allah akan menjawab: Ya, aku mencintai Allah.
Ketika pertanyaan berikut diajukan: Apa buktinya kamu mencintai Allah? Jawabannya bisa berbeda-beda, tapi esensinya mungkin menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ya, sudah tentu itu sangat normatif.
Lalu kalau pertanyaan lebih fokus dan spesifik tentang sampai sejauh mana ia mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, maka ia akan gagap dan sulit menjawabnya.
Sebenarnya Allah Swt telah memberikan gambaran dan petunjuk tentang persoalan 'mencintai Allah' ini.
Firman-Nya dalam Surah aali 'Imran ayat 31:
KATAKAN [WAHAI MUHAMMAD KEPADA UMATMU], JIKA KALIAN MENCINTAI ALLAH MAKA IKUTILAH AKU [MUHAMMAD] NISCAYA ALLAH MENCINTAI KALIAN DAN MENGAMPUNI DOSA-DOSA KALIAN...
Pesan sangat jelas dari ayat suci tersebut adalah 'mengikuti Muhammad saww' merupakan indikasi dan bukti paling jelas tentang 'mencintai Allah'.
Ayat suci tersebut juga menyatakan dengan sangat jelas bahwa siapa pun yang mengikuti Nabi Muhammad saww maka ia akan meraih CINTA ALLAH dan AMPUNAN ALLAH ATAS DOSA-DOSANYA.
Pertanyaannya: Sudahkah kita mengikuti Nabi Muhammad saww, dan sampai sejauh mana?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"BERBUAT BAIK KPD KEDUA ORG TUA"
MENURUT IMAM JA'FAR SHADIQ A.S
Imam Ja'far Shadiq a.s ketika ditanya tentang maksud firman Allah dalam Surah al-Baqarah 83 "...dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua...", berkata, "Maksudnya kamu berhubungan baik dengan mereka, dan berikanlah apa yang menjadi kebutuhan mereka meskipun mereka memiliki banyak harta. Bukankah Allah berfirman [dalam Surah aali 'Imran 92], "Kamu tidak akan memperoleh kebaikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu sukai."Sedangkan firman Allah yang berbunyi, "...jika salah seorang dari antara mereka berdua atau kedua-duanya mencapai usia tua, maka janganlah kamu mengeluarkan kata-kata yang menghina mereka berdua dan janganlah kamu membentak mereka berdua..." (Surah al-Isra' 23)
Maksudnya, jika mereka berdua menyakiti kamu maka janganlah kamu mengeluarkan kata-kata yang menghina mereka berdua, dan janganlah kamu membentak mereka berdua meskipun mereka memukul kamu.
Masih di ayat yang sama "dan bicaralah kepada mereka berdua dengan kata-kata mulia". Kata Imam Ja'far, "Jika mereka berdua memukul kamu maka ucapkanlah untuk mereka berdua: Semoga Allah mengampuni kalian berdua. Itulah yang dimaksud dengan kata-kata mulia dari kamu.
Firman-Nya selanjutnya, "Dan rendahkanlah diri kamu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang...". Kata Imam Ja'far, "Hendaklah kamu memandang mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, janganlah kamu meninggikan suara kamu di atas suara mereka, janganlah kamu mengangkat tangan kamu di atas tangan mereka, dan janganlah kamu berjalan di depan mereka."
(Misykatul Anwar, Hasan bin Fadhl bin Hasan Tabarsi, hadits ke-863)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hampir setiap hamba Allah akan spontan menjawab pertanyaan: Apakah kamu mencintai Allah? Dengan sangat enteng si hamba Allah akan menjawab: Ya, aku mencintai Allah.
Ketika pertanyaan berikut diajukan: Apa buktinya kamu mencintai Allah? Jawabannya bisa berbeda-beda, tapi esensinya mungkin menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ya, sudah tentu itu sangat normatif.
Lalu kalau pertanyaan lebih fokus dan spesifik tentang sampai sejauh mana ia mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, maka ia akan gagap dan sulit menjawabnya.
Sebenarnya Allah Swt telah memberikan gambaran dan petunjuk tentang persoalan 'mencintai Allah' ini.
Firman-Nya dalam Surah aali 'Imran ayat 31:
KATAKAN [WAHAI MUHAMMAD KEPADA UMATMU], JIKA KALIAN MENCINTAI ALLAH MAKA IKUTILAH AKU [MUHAMMAD] NISCAYA ALLAH MENCINTAI KALIAN DAN MENGAMPUNI DOSA-DOSA KALIAN...
Pesan sangat jelas dari ayat suci tersebut adalah 'mengikuti Muhammad saww' merupakan indikasi dan bukti paling jelas tentang 'mencintai Allah'.
Ayat suci tersebut juga menyatakan dengan sangat jelas bahwa siapa pun yang mengikuti Nabi Muhammad saww maka ia akan meraih CINTA ALLAH dan AMPUNAN ALLAH ATAS DOSA-DOSANYA.
Pertanyaannya: Sudahkah kita mengikuti Nabi Muhammad saww, dan sampai sejauh mana?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban saya secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri …
Ma, Tuhan Berada dimana Sich?
(Mengenalkan Esensi Tuhan kepada Anak)
“Dan Dia bersama Kalian dimanapun kalian berada” (QS al-Hadid : 4)
“Katakan (wahai Muhamad): Tuhan itu Esa.” (QS al-Ikhlas : 1)
Rasa ingin tahu (hubbul istithla’) adalah merupakan salah satu fitrah manusia. Artinya manusia terlahir dengan memiliki salah satu ciri khas fitrah tersebut. Rasa ingin tahu akan sekelilinganya dan segala sesuatu yang dilihatnya. Rasa ingin tahu tersebut akan mencapai puncaknya sewaktu masa kanak-kanak. Hal ini wajar dikarenakan rasa ingin tahu mereka akan hal-hal yang baru bagi mereka.
Kadang orang tua merasa capek mengahadapi pertanyaan yang dilontarkan anak-anak kepadanya. Sebaiknya dan hendaknya orang tua tidak memarahi ataupun melarang anaknya untuk bertanya, karena jika demikian sama artinya dengan membunuh potensi dan kreatifitas yang terdapat pada anak-anak yang harus terus dikembangkan.
Kadang orang tua merasa capek mengahadapi pertanyaan yang dilontarkan anak-anak kepadanya. Sebaiknya dan hendaknya orang tua tidak memarahi ataupun melarang anaknya untuk bertanya, karena jika demikian sama artinya dengan membunuh potensi dan kreatifitas yang terdapat pada anak-anak yang harus terus dikembangkan.
Anak-anak pada usia ini kadang-kadang menanyakan hal-hal yang tidak diduga oleh orang tuanya. Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang tua ketika menghadapi berbagai pertanyaan anak-anaknya, apakah anak harus dimarahi ataukah memberikan jawaban asal-asalan kepadanya, ataukah dibiarkan saja begitu saja? Kalau kita merujuk akal pikiran kita maka ketiga langkah tersebut semuanya adalah salah. Kita biasa melihat sebagian orang tua yang ketika anak bertanya ia langsung berkata: “Huss, jangan banyak tanya, diam kamu!”.
Orang tua hendaknya berusaha menjawab pertanyaan anak dengan bahasa yang dipahami mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ilmu psikologi pada usia kanak-kanak mereka lebih cepat memahami hal-hal yang bersifat inderawi. Berdasarkan hal ini, ketika anak kami bertanya: “Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban kami secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri. Kembali saya menjawab: “Benar Tuhan ada di mana-mana, akan tetapi tetap satu”, jelas saya.
Anak kami masih bingung ketika mendengar jawaban yang kami berikan kepadanya. Dan dari raut wajahnya masih terlihat rasa penasaran, ia masih berpikir bagaimana bisa, ‘ada di mana-mana tapi satu’. Sewaktu kami melihatnya dalam keadaan termenung dan masih belum puas dengan jawaban kami, dengan penuh kasih sayang dan dengan bahasa yang semudah mungkin kami kembali melontarkan pertanyaan; “Wahai putriku sayang, kamu tahu matahari ada berapa? “Ya, ada satu”, jawabnya. Kami kembali bertanya: “Apakah matahari hanya ada di tempat kamu saja, atau di tempat temanmu (yang ada di negara) lainpun ada? “Tidak, di tempat lain pun ada”. “Wahai putriku, tadi kamu katakan matahari itu hanya ada satu, tapi di manapun kamu berada iapun ada. Nah Tuhan pun seperti itu, satu tapi ada di mana-mana”.
Catatan:
Tentu, kami tidak ingin mengatakan bahwa Tuhan persis seperti matahari, ini hanya untuk pendekatan saja. Dan kita menggunakan contoh (analogi) seperti ini hanya melihat dari segi ungkapan ‘satu tapi ada di mana-mana’ sehingga anak dapat memahaminya atau dalam terminologi ilmu logika disebut dengan “Pendekatan (pemahaman) hal yang non materi (Tuhan) dengan melalui hal yang materi atau inderawi” (taqribul ma’qul bil mahsus). Yang dalam kasus ini adalah matahari. Adapun untuk pendekatan yang lain kita bisa menggunakan analogi yang lain, seperti Allah tidak bertempat, Allah meliputi semuanya…dst.
(dari Artikel Islam Feminis - ED)
HAL - HAL YANG DIBENCI ALLAH
Seandainya ada sejumlah orang membenci kita, mungkin tidak ada masalah selama kita meyakini bahwa Allah mencintai kita, walaupun kita perlu mengadakan introspeksi dan koreksi mengapa sejumlah orang itu membenci kita. Tapi celakanya, ada sebagian orang yang menganggap tiadanya kebencian manusia terhadap diri mereka mengindikasikan tiadanya juga kebencian Allah terhadap diri mereka.
Pertanyaan: Sesederhana itukah konklusinya, dan tepatkah? Lalu perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap apakah yang membuat Allah membenci kita?
Pertanyaan: Sesederhana itukah konklusinya, dan tepatkah? Lalu perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap apakah yang membuat Allah membenci kita?
Semoga riwayat-riwayat berikut ini dari Rasulullah saww dan Ahlul Baitnya a.s dapat sedikit memberikan gambaran dan petunjuk praktis bagi kita:
1. Rasulullah saww: Sesungguhnya Allah Swt membenci setiap orang yang pintar dalam urusan dunia tapi jahil dalam urusan akhirat. (Kanzul 'Ummal, hadits 28982)
2. Imam Ali a.s: Sesungguhnya Allah Swt membenci orang yang panjang angan-angannya tapi buruk amalan-amalannya. (Ghurar al-Hikam, hikmah 3455)
3. Imam Ali Zainal Abidin a.s: Sesungguhnya Allah membenci orang yang kikir lagi suka meminta-minta. (Biharul Anwar 78/140/27)
4. Imam Baqir a.s: Sesungguhnya Allah Swt membenci orang tua yang jahil, orang kaya yang zalim, dan orang miskin yang angkuh. (Biharul Anwar 75/312/17)
5. Imam Ali a.s: Makhluk yang paling dibenci Allah adalah seorang tua pelaku zina. (Ghurar al-Hikam, hikmah 3119)
6. Imam Ali a.s: Makhluk yang paling dibenci Allah adalah orang yang suka melakukan ghibah. (Ghurar al-Hikam, hikmah 3128)
7. Imam Ali a.s: Hamba Allah yang paling dibenci oleh-Nya adalah orang yang hanya ingin memenuhi kebutuhan perut dan syahwat seksualnya. (Ghurar al-Hikam, hikmah 3294)
8. Rasulullah saww: Sesungguhnya makhluk yang paling dibenci Allah ada tiga, yaitu orang yang banyak tidur di siang hari dan tidak shalat malam [tahajud] sama sekali; orang yang banyak makan namun tidak membaca basmalah dan memuji-Nya ketika makan; dan orang yang banyak tertawa tanpa ada sebab yang membuatnya takjub. (Kanzul 'Ummal, hadits 21431)
9. Imam Ja'far Shadiq a.s: Sesungguhnya makhluk Allah yang paling dibenci adalah seorang hamba Allah yang lidahnya [ucapan-ucapan buruknya] ditakuti manusia lain. (Al-Kafi 2/323/4)
10. Rasulullah saww: Tidak ada sesuatu yang paling dibenci Allah dibandingkan dengan kekikiran dan keburukan akhlak, karena keduanya dapat merusak amalan sebagaimana lumpur dapat merusak madu. (Biharul Anwar 16/231/35)
11. Imam Ja'far Shadiq a.s: Sesungguhnya Allah membenci orang yang banyak tidur dan banyak menganggur. (Biharul Anwar 76/180/10)
12. Rasulullah saww: Tidak ada sesuatu yang paling dibenci Allah dibandingkan dengan perut [seorang manusia] yang selalu penuh dengan makanan dan minuman. ('Uyun Akhbar ar-Ridha 2/36/89)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
‘Pengkhianatan terhadap Wanita’
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah…”. [At-Taghabun : 14]
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah…”. [QS at-Taghabun : 14, al-Qur’an dan terjemahnya, edisi revisi, DEPAG-RI, Mahkota Surabaya]
Maksudnya, kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama. [penjelasan dari DEPAG]
Terjemahan di atas dikutip dari terjemahan Depag. Transliting memerlukan keahlian terkhusus dalam kedua bahasa, yaitu bahasa yang diterjemahkan dan bahasa yang menerjemahkan. Dan tidak sembarangan orang dapat menerjemahkan sebuah teks ataupun buku, apalagi berkaitan dengan kitab suci yang menjadi pegangan sebuah agama atau sekte.
Terjemahan ayat di atas telah menarik perhatian, dan melihat pula teks asli ayatnya yang masih berbahasa Arab. Khususnya pada ungkapan “istri-istrimu”, dimana berdasarkan ayat di atas -tentunya masih merujuk pada terjemahan versi DEPAG- bahwa hanya istri saja yang bisa menjadi musuh dan menjerumuskan seorang suami untuk melakukukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama.
Sementara berkaitan dengan suami tidak disinggung sama sekali dalam ayat tersebut. Dengan kata lain suami tidak pernah menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya untuk melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Kesimpulan ini dapat kita tarik tatkala merujuk terjemahan versi DEPAG-RI di atas.
Sementara berkaitan dengan suami tidak disinggung sama sekali dalam ayat tersebut. Dengan kata lain suami tidak pernah menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya untuk melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Kesimpulan ini dapat kita tarik tatkala merujuk terjemahan versi DEPAG-RI di atas.
Namun terdapat kesimpulan lain yang bisa kita ambil dengan mengkritisi pola penterjemahan di atas:
Pertama: Asal kata yang kemudian dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan ‘istri-istri’ ialah ‘azwaj’ bentuk plural (jamak) dari kata ‘zauj’. Dalam ensklopedia bahasa karya Raghib al-Isfahani, beliau menjelaskan bahwa kata ‘zauj’ artinya ialah ‘pasangan’ yang bisa digunakan untuk benda seperti sepasang sepatu, untuk hewan seperti sepasang ayam (jantan dan betina), dan untuk manusia seperti suami dan istri. Hal inipun dikuatkan pula oleh Allamah Thabathabai mufassir kontemporer dalam karyanya tafsir al-Mizan.
Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas, sepatutnya terjemahan ayat di atas akan menjadi seperti ini: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara pasangan-pasangan kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah…”.
Konklusi berdasarkan terjemahan di atas, sebagaimana sewaktu-waktu seorang istri akan bisa menjadi musuh dan menjerumuskan suami-nya ke dalam perbuatan yang tidak dibenarkan agama, begitu juga sebaliknya , seorang suami pun akan bisa menjadi musuh dan menjerumuskan istri-nya ke dalam perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Kesimpulan ini diambil karena kata ‘azwaj’ diartikan ‘pasangan-pasangan’, bukan hanya diartikan untuk istri saja. Dan sebagaimana kita tahu, pasangan dalam bahasa Indonesia pun digunakan untuk laki-laki dan perempuan (suami dan istri).
Kedua: Dalam realitanya apakah hanya istri saja yang menjadi musuh dan bisa menjerumuskan suaminya? Apakah tidak ada suami yang menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya? Contoh gampangnya, Fir’aun suaminya Asiah. Atau para suami lainnya yang pada zaman sekarang ini telang melarang istrinya untuk mengenakan hijab (jilbab), padahal berbusana muslim merupakan perintah agama. Bisa kita lihat diberita ada suami yang menjual istrinya. Lantas apakah mereka (suami-suami tadi) bukan menjadi musuh bagi istrinya dalam ketatan kepada Allah SWT?
Ketiga: Apabila alasannya menerjemahkan kata tersebut dikarenakan kata ‘azwaj’ digandengkan dengan kata ganti jamak untuk laki-laki (‘kum’, dhamir jamak mudzakar) sehingga menjadi ‘azwajikum’, maka jawabnya ialah; dalam kaidah bahasa Arab (nahwu) ketika audiennya terdiri dari laki-laki dan perempuan maka akan menggunakan kata ganti jamak untuk laki-laki, walaupun jumlah mereka satu berbanding sepuluh. Maksudnya sepuluh perempuan dan seorang laki-laki.
Keempat: Audien ayat di atas adalah orang-orang yang beriman ‘Wahai orang-orang yang beriman…’ dan kita ketahui bahwa orang-orang yang beriman bukan monopoli laki-laki semata. Dan kalau alasannya lagi karena seruan di atas menggunakan kata ganti jamak mudzakar maka jawabannya seperti jawaban pada poin ketiga di atas. Dan selain itupun, beberapa perintah Allah menggunakan seruan seperti ayat tadi, yang maksudnya seruan tersebut ditujukan untuk laki-laki dan perempuan yang beriman. Hal itu dapat kita jumpai seperti pada ayat yang berkaitan dengan perintah puasa dan ayat-ayat lainnya.
Dari sini, demi menjaga amanat dakwah ajaran Ilahi, hendaknya DEPAG merevisi kembali penerjemahan versinya. Karena jika tidak, maka hal itu selain akan berimbas kepada ‘penyesatan pemahaman’ seseorang sewaktu mengkaji al-Quran, juga bertentangan dengan ‘amanat penerjemahan’, apalagi ini berkaitan dengan kitab suci al-Quran. Ini adalah sedikit contoh dari kerancuan penerjemahan versi DEPAG-RI. Kita berharap, ke depan, semoga DEPAG lebih teliti dalam menerjemahkan al-Quran al-Karim, kitab suci kaum muslimin.
(Dari Artikel Islam Feminis- ED)
SIFAT TERPUJI YANG DIMILIKI PEREMPUAN :
“Terdapat tiga sifat terpuji jika dimiliki oleh perempuan, dan buruk jika dimiliki oleh laki-laki; sombong, penakut dan bakhil (kikir). Apabila seorang perempuan sombong maka ia tidak akan mengizinkan laki-laki asing (non muhrim) memasuki kehidupannya, apabila ia bakhil maka ia dapat menjaga hartanya dan harta suaminya, dan apabila ia penakut maka ia akan selalu menjauhkan diri dari segala sesuatu yang membahayakannya”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-234 ]
Kiat mengenal teman dan musuh, Imam Ali as berkata:
“Terdapat tiga jenis teman dan musuh; temanmu, temannya temanmu dan musuhnya musuhmu ialah merupakan temanmu. Sementara musuhmu, musuhnya temanmu dan temannya musuhmu ialah merupakan musuhmu ”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-295]
Kiat untuk diam, Imam Ali as berkata:
“Janganlah engkau mengatakan sesuatu yang tidak diketahui olehmu. Bahkan janganlah pula engkau mengatakan segala sesuatu yang engkau ketahui, karena Allah swt telah mewajibkan kepada seluruh anggota tubuhmu agar menjadi saksi kelak di hari Kiamat”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-382]
Aneka ragam rezeki, Imam Ali as berkata:
“Terdapat dua jenis rezeki; rezeki yang mencarimu, dan rezeki yang dicari olehmu. Barangsiapa yang mencari dunia maka kematian akan mencarinya hingga ia keluar dari dunia. Dan barangsiapa yang mencari akherat maka dunia akan mencarinya hingga rezeki yang menjadi bagiannya di dunia akan sempurna”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-431]
Kiat mengenalkan diri, Imam Ali as berkata:
“Berbicaralah, hingga anda dapat dikenal. Karena sesungguhnya hakekat seseorang tersembunyi dibalik lisannya (jika seseorang semakin banyak bicara niscaya akan nampak kepribadiannya yang selama ini tersembunyi)”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-392]
Kiat bergaul, Imam Ali as berkata:
“Bergaullah dengan orang lain, dimana jika kalian meninggal mereka akan menangisimu, dan jika kalian berada di antara mereka, mereka akan mengasihi kalian”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-10]
Ungkapan mutiara hikmah dari Imam Ali as :
“Seburuk-buruknya manusia ialah orang yang naif dalam mencari teman, dan lebih buruk lagi darinya ialah orang yang kehilangan temannya”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-12]
“Terdapat dua macam kesabaran; sabar terhadap sesuatu yang tidak disukai, dan sabar terhadap sesuatu yang disukai”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-55]
“Tiada kekayaan seperti akal, tiada kefakiran seperti kebodohan, tiada warisan seperti adab sopan santun, dan tiada penolong seperti musyawarah”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-54]
“Seburuk-buruknya bekal untuk akherat ialah berbuat zalim kepada para hamba-Nya”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-221]
“Semakin banyak (panjang lebar) suatu jawaban niscaya kebenaran akan (kian) tersembunyi”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-243]
“Kesehatan jasad (badan) karena sedikitnya hasad (hasud/ iri dengki)”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-256]
“Dua kelompok manusia yang tidak akan pernah merasa puas; pencari ilmu dan pencari harta dunia”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-457]
“Sedikit tapi kontinyu lebih baik daripada banyak tapi tidak terlaksana”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-444]
“Musuh manusia ialah kebodohannya”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-438]
“Pada setiap hari dimana padanya tidak bermaksiat kepada Allah swt maka itulah hari raya yang sebenarnya”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-428]
“Tak ada kebaikan pada diam sewaktu ia harus berbicara, dan tak ada kebaikan pada bicara sewaktu ia harus diam karena tidak tahu”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-471]
“Dosa terbesar ialah menganggap remeh dosa”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-477]
“Seburuk-buruknya teman ialah orang yang banyak merepotkan temannya”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-479]
Apakah Tujuan dari Penciptaan Manusia?
Hanya sedikit individu yang tidak mempertanyakan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Setiap saat terdapat kelompok manusia yang senantiasa lahir di dunia ini, kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok lain yang meninggal dunia. Apakah sebenarnya tujuan dari kedatangan dan kepergian ini?
Seandainya kita, manusia, tidak hidup di bumi ini, kira-kira bagian alam manakah yang akan rusak? Dan apakah masalah yang akan timbul? Apakah kita perlu untuk mengetahui; mengapa kita datang dan pergi? Dan untuk mengetahui makna dari semua ini, apakah kita punya kemampuan untuk itu? Dan beribu pertanyaan lain sebagai konsekuensi dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memenuhi pikiran manusia.
Setiap kali kaum materialis mengutarakan pertanyaan semacam ini, sepertinya belum ada jawaban (yang dapat memuaskan). Karena, alam materi tidak memiliki akal dan perasaan sama sekali sehingga ia dapat memiliki sebuah tujuan.
Dengan alasan inilah, mereka telah meloloskan diri dari persoalan ini dan meyakini bahwa alam penciptaan adalah nihil dan tak bertujuan. Dan betapa sangat menyedihkan apabila manusia melangsungkan hidupnya di seluruh bidang seperti pendidikan, usaha dan kerja, makanan, penyembuhan, kesehatan, olah raga, dan lain sebagainya dengan tujuan yang pasti dan dengan program yang sangat detail, akan tetapi seluruh (sistem) kehidupan (sebagai sebuah kesatuan) yang ada di alam semesta ini adalah nihil dan tidak mempunyai tujuan sama sekali.
Dengan alasan inilah, mereka telah meloloskan diri dari persoalan ini dan meyakini bahwa alam penciptaan adalah nihil dan tak bertujuan. Dan betapa sangat menyedihkan apabila manusia melangsungkan hidupnya di seluruh bidang seperti pendidikan, usaha dan kerja, makanan, penyembuhan, kesehatan, olah raga, dan lain sebagainya dengan tujuan yang pasti dan dengan program yang sangat detail, akan tetapi seluruh (sistem) kehidupan (sebagai sebuah kesatuan) yang ada di alam semesta ini adalah nihil dan tidak mempunyai tujuan sama sekali.
Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengherankan apabila sebagian mereka setelah melakukan perenungan terhadap persoalan ini, merasa puas dengan kehidupan yang nihil dan tanpa tujuan ini, dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri.
Akan tetapi, ketika pertanyaan ini dipertanyakan oleh seorang penyembah Tuhan kepada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah menemui jalan buntu. Karena dari satu sisi, ia tahu bahwa pencipta dunia ini adalah Mahabijaksana dan pastilah apa yang Dia ciptakan mempunyai sebuah hikmah yang luar biasa, walaupun kita tidak tahu akan hal tersebut.
Dan dari sisi lain, ketika ia memperhatikan anggota-anggota tubuhnya, ia akan menemukan tujuan dan filsafat dari setiap bagiannya. Bukan hanya pada anggota-anggota badan, seperti jantung, otak, pembuluh darah, dan urat saraf saja, bahkan anggota-anggota badan lainnya, seperti kuku, bulu mata, garis-garis sidik jari, lekukan telapak tangan dan kaki, masing-masing mempunyai filsafat yang saat ini telah diketahui oleh setiap orang.
Dan dari sisi lain, ketika ia memperhatikan anggota-anggota tubuhnya, ia akan menemukan tujuan dan filsafat dari setiap bagiannya. Bukan hanya pada anggota-anggota badan, seperti jantung, otak, pembuluh darah, dan urat saraf saja, bahkan anggota-anggota badan lainnya, seperti kuku, bulu mata, garis-garis sidik jari, lekukan telapak tangan dan kaki, masing-masing mempunyai filsafat yang saat ini telah diketahui oleh setiap orang.
Betapa konyol jika kita meyakini kebertujuan semua anggota itu, tetapi keberadaan alam semesta (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan?
Betapa bodoh jika kita meyakini bahwa setiap bangunan di sebuah kota mempunyai tujuan dan filsafat, akan tetapi bangunan-bangunan itu (secara keseluruhan) tidak tidak memiliki tujuan sama sekali?
Apakah mungkin seorang insinyur membangun sebuah bangunan besar yang seluruh ruangan, koridor, pintu, jendela, kolam, dekor, dan lain sebagainya, masing-masing dirancangnya dengan maksud dan tujuan tertentu, tetapi seluruh bangunan itu (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan sama sekali?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memberikan kepercayaan kepada seorang manusia mukmin bahwa penciptaan dirinya mempunyai tujuan yang sangat agung, yang untuk memahami hal tersebut, ia harus berusaha dan memanfaatkan kekuatan ilmu serta akal.
Ironisnya, para penganut Nihilisme; ketakbermaknaan penciptaan ini malah masuk ke dalam semua bidang ilmu-ilmu alam untuk menginterpretasikan beragam fenomena yang ada untuk mencari suatu tujuan, dan mereka tidak bisa duduk tenang kecuali telah mendapatkan apa yang mereka maksudkan.
Bahkan, mereka pun tidak bersedia menerima kehadiran sebuah wujud berupa butiran begitu kecil yang berada dalam bagian badan manusia tanpa mempunyai sebuah aktifitas pun, dan mungkin saja mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun di dalam laboratorium penelitian untuk menemukan filsafat dari satu wujud ini.
Akan tetapi, ketika sampai pada penciptaan manusia, mereka dengan tegas mengatakan bahwa penciptaannya tidak memiliki tujuan sama sekali.
Bahkan, mereka pun tidak bersedia menerima kehadiran sebuah wujud berupa butiran begitu kecil yang berada dalam bagian badan manusia tanpa mempunyai sebuah aktifitas pun, dan mungkin saja mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun di dalam laboratorium penelitian untuk menemukan filsafat dari satu wujud ini.
Akan tetapi, ketika sampai pada penciptaan manusia, mereka dengan tegas mengatakan bahwa penciptaannya tidak memiliki tujuan sama sekali.
Betapa sebuah kontroversial yang sangat menakjubkan!
Bagaimanapun, iman pada hikmah Allah Swt. dari satu sisi, dan beragam filsafat yang terdapat pada setiap bagian dari wujud insan pada sisi lain akan membentuk diri kita menjadi seorang mukmin. Hal ini merupakan sebuah tujuan agung dari penciptaan manusia.
Saat ini kita harus mencoba mencari apa tujuan tersebut, dan sejauh kemampuan kita akan mencoba menyingkapnya dan setelah itu, kita akan berusaha melangkahkan kaki ke arahnya secara bertahap. Perhatian terhadap satu masalah prinsip akan mampu membentuk pelita yang menerangi jalan yang gelap ini.
Kita senantiasa mempunyai tujuan dalam setiap apa yang kita lakukan. Tujuan tersebut biasanya dalam rangka menutupi kekurangan dan kebutuhan yang kita miliki.
Bahkan, apabila kita berkhidmat kepada orang lain atau menuntun tangan seseorang yang mengalami kesulitan dan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang sedang dialaminya, atau bahkan dengan melakukan kesetiaan dan ketakwaan, semua ini pun merupakan sebuah cara untuk memenuhi kekurangan-kekurangan maknawi yang ada pada diri kita sehingga kebutuhan-kebutuhan suci kita akan menjadi tercukupi.
Bahkan, apabila kita berkhidmat kepada orang lain atau menuntun tangan seseorang yang mengalami kesulitan dan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang sedang dialaminya, atau bahkan dengan melakukan kesetiaan dan ketakwaan, semua ini pun merupakan sebuah cara untuk memenuhi kekurangan-kekurangan maknawi yang ada pada diri kita sehingga kebutuhan-kebutuhan suci kita akan menjadi tercukupi.
Dan karena kita sering membandingkan sifat dan perbuatan Ilahi dengan sifat dan perbuatan diri kita, mungkin saja akan memunculkan sebuah pertanyaan; adakah kekurangan yang dimiliki oleh Allah Swt. sehingga menciptakan kita untuk menutupi kekurangan itu? Dan apabila di dalam salah satu ayat Al-Qur’an kita menemukan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk melakukan ibadah dan penghambaan, lalu apa perlunya Dia membutuhkan penghambaan dari kita?
Cara berpikir yang demikian ini muncul lantaran komparasi sifat Khaliq dengan makhluk, dan antara yang Wajib dengan yang mungkin.
Wujud kita adalah sebuah wujud yang terbatas, maka kita harus melakukan usaha untuk menutupi kekurangan yang ada dan semua amalan kita dalam rangka memenuhi kekurangan ini. Akan tetapi, pada sebuah wujud yang tanpa batas, penjelasan ini tidaklah bisa diterima. Kita harus mencari tujuan perbuatan-Nya dari selain wujud-Nya.
Ia adalah Sang Awal dan Sumber kenikmatan. Segenap makhluk berada dalam genggaman kepedulian, perhatian dan pemeliharaan-Nya. Dia membawa mereka dari kekurangan kepada kesempurnaan. Inilah tujuan hakiki dari penghambaan (‘ubûdiyah) kita, dan inilah filsafat dari ibadah dan doa kita; dimana semua itu merupakan rangkaian pendidikan bagi kesempurnaan kita.
Dengan demikian, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk kesempurnaan wujud kita.
Pada prinsipnya, penciptaan merupakan satu langkah menuju kesempurnaan yang sangat agung yang akan membuat ketiadaan menjadi sebuah wujud; dari tidak ada menjadi ada, dan dari nol menuju angka.
Dan setelah tuntasnya proses kesempurnaan yang agung ini, tahapan kesempurnaan yang lain akan dimulai dan seluruh program agama dan Ilahi akan berada dalam rute ini.
Mengapa Allah tidak Menciptakan Manusia secara sempurna dari Sejak Awal Penciptaannya?
Dasar pertanyaan muncul dari kelalaian terhadap satu hal, yaitu bahwa asas utama kesempurnaan (takamul) adalah kesempurnaan yang dicapai secara ikhtiyârî. Dengan kata lain, manusia melakukan perjalanannya berdasarkan kehendak, dan keputusannya sendiri. Apabila ia berjalan dengan dituntun atau ditarik paksa, ini bukan merupakan sebuah kebanggaan, bukan pula sebuah kesempurnaan.
Apabila manusia menginfakkan satu rupiah dari kekayaannya dengan kesadaran dan kehendaknya sendiri, maka ia telah melangkahkan kakinya ke arah kesempurnaan hakiki. Sementara, apabila orang lain telah dipaksa mengeluarkan berjuta-juta dari kekayaannya untuk diinfakkan, ia tidak akan mengalami kemajuan dalam proses kesempurnaannya, hatta satu langkah sekali pun.
Apabila manusia menginfakkan satu rupiah dari kekayaannya dengan kesadaran dan kehendaknya sendiri, maka ia telah melangkahkan kakinya ke arah kesempurnaan hakiki. Sementara, apabila orang lain telah dipaksa mengeluarkan berjuta-juta dari kekayaannya untuk diinfakkan, ia tidak akan mengalami kemajuan dalam proses kesempurnaannya, hatta satu langkah sekali pun.
Oleh karena itu, berbagai ayat di dalam Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa apabila Allah swt. menghendaki keseluruhan manusia untuk beriman secara terpaksa, iman demikian ini tidak akan pernah membawa berguna bagi mereka.
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang berada di muka bumi ini akan beriman seluruhnya ….”
Tujuan dari Kesempurnaan Manusia
Sebagian mengatakan bahwa tujuan penciptaan adalah untuk kesempurnaan manusia. Akan tetapi, apa tujuan dari kesempurnaan ini?
Secara ringkas, jawaban atas pertanyaan ini ialah bahwa kesempurnaan merupakan tujuan akhir, atau dengan ibarat lain, kesempurnaan merupakan tujuan dari segala tujuan.
Penjelasan
Apabla kita bertanya dari seorang pelajar, “Untuk apa kamu belajar?”, pasti ia akan segera menjawab, “Karena aku ingin melanjutkan pelajaranku sampai ke perguruan tinggi.” Selanjutnya, apabila kita bertanya, “Untuk apa belajar di perguruan tinggi?”, ia akan menjawab, “Karena (misalnya) aku ingin menjadi seorang dokter, atau insinyur yang andal.”
Ketika kita bertanya lagi, “Untuk apa kamu menginginkan gelar dokter atau insinyur tersebut?” Ia akan menjawab, “Supaya aku bisa melakukan aktifitas-aktvitas yang positif dan memperoleh income yang bagus”, Lalu, “Untuk apa kamu menginginkan income yang bagus itu?” Jawabannya adalah, “Untuk mendapatkan kehidupan yang senang dan terhormat.”
Ketika kita bertanya lagi, “Untuk apa kamu menginginkan gelar dokter atau insinyur tersebut?” Ia akan menjawab, “Supaya aku bisa melakukan aktifitas-aktvitas yang positif dan memperoleh income yang bagus”, Lalu, “Untuk apa kamu menginginkan income yang bagus itu?” Jawabannya adalah, “Untuk mendapatkan kehidupan yang senang dan terhormat.”
Akhirnya, jika kita bertanya, “Lalu, untuk apa kamu menginginkan kehidupan yang senang dan terhormat tersebut?” Di sini, kita akan melihat bahwa nada suaranya akan menjadi berubah dan menjawab, “Ya … untuk kehidupan yang senang dan terhormat itu tadi.” Tampak bagaimana ia mengulangi apa yang telah dikatakan sebelumnya.
Ini adalah dalil bahwa ia telah sampai pada jawaban terakhir. Dengan ungkapan lain, ia telah sampai pada sebuah aktifitas di mana ia tidak akan menemukan jawaban lain selain hal tersebut dan membentuk sebuah tujuan terakhir. Semua ini berkenaan dengan kehidupan materi.
Dalam kehidupan maknawi pun masalah akan muncul sebagaimana di atas. Ketika ditanyakan; untuk apakah kehadiran para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, dan kewajiban serta rangkaian pendidikan ini, kita akan mengatakan; untuk kesempurnaan manusia dan taqarrub kepada Allah Swt.
Dan apabila ditanyakan; untuk apakah kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt. itu?, kembali kita akan mengatakan; ya, untuk kedekatan kepada Allah Swt. itu sendiri. Dengan demikian, bisa diketahui bahwa tujuan ini merupakan tujuan akhir dari kesempurnaan manusia. Dengan ungkapan lain, kita menginginkan segala sesuatu yang ada untuk kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt. Akan tetapi, kedekatan kepada Allah Swt. adalah tujuan itu sendiri.
Ujian Tuhan Terhadap Manusia
Terdapat banyak pembahasan tentang masalah ujian Ilahi ini. Pertanyaan pertama yang akan muncul di dalam pikiran adalah bukankah ujian adalah agar kita mengenal seseorang atau segala sesuatu yang kabur dan mengurangi tingkat kebodohan kita?
Jika demikian adanya, lalu mengapa Allah Swt. -yang ilmu-Nya telah meliputi segala sesuatu, mengetahui semua rahasia lahir dan batin, mengetahui langit dan bumi dengan ilmu-Nya yang tak terbatas- masih merasa perlu untuk menguji manusia? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya sehingga untuk mengetahuinya Dia harus memberikan ujian kepada manusia?
Jika demikian adanya, lalu mengapa Allah Swt. -yang ilmu-Nya telah meliputi segala sesuatu, mengetahui semua rahasia lahir dan batin, mengetahui langit dan bumi dengan ilmu-Nya yang tak terbatas- masih merasa perlu untuk menguji manusia? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya sehingga untuk mengetahuinya Dia harus memberikan ujian kepada manusia?
Jawaban atas pertanyaan penting ini (dapat dipecahkan) dengan merenungkan realita bahwa ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah Swt. sangatlah berbeda dengan ujian-ujian yang ada pada kita. Ujian-ujian yang ada pada kita adalah —seperti yang telah dijelaskan di atas— untuk mengenal lebih banyak dan menyingkapkan kejahilan. Akan tetapi, ujian Ilahi pada dasarnya bertujuan untuk pendidikan.
Penjelasan
Di dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari dua puluh macam ujian yang telah dinisbahkan kepada Allah Swt. Ini merupakan satu hukum universal dan sunah yang abadi dari Allah Swt. Dia menguji manusia dengan tujuan membuat bakat-bakat yang tersimpan nampak (dan mengubah sesuatu dari wujud potensi [quwwah] menjadi aktual [fi’liyah]) dan —pada akhirnya— untuk mendidik para hamba.
Sebagaimana baja harus dimasukkan ke dalam tungku pembakaran terlebih dahulu untuk menghasilkan baja yang berkualitas tinggi, demikian juga halnya dengan manusia pun harus ditempa dan dididik terlebih dahulu dengan musibah-musibah yang berat dan kesulitan yang beragam untuk menjadi insan berkualitas baja dan tahan tempa.
Sebagaimana baja harus dimasukkan ke dalam tungku pembakaran terlebih dahulu untuk menghasilkan baja yang berkualitas tinggi, demikian juga halnya dengan manusia pun harus ditempa dan dididik terlebih dahulu dengan musibah-musibah yang berat dan kesulitan yang beragam untuk menjadi insan berkualitas baja dan tahan tempa.
Pada hakikatnya, ujian dari Allah Swt. ini mirip dengan pekerjaan seorang tukang kebun yang telah mempunyai banyak pengalaman dalam menebarkan biji-biji yang berpotensi di atas tanah-tanah yang telah siap.
Biji-biji ini akan memulai perkembangan dan pertumbuhannya dengan memanfaatkan sumber-sumber alami, dan secara bertahap, ia akan bertahan melawan kesulitan dan perubahan yang ada di sekitarnya, berdiri tegak ketika berhadapan dengan topan besar, dingin yang mematikan dan panas yang membakar sehingga ia melahirkan bunga-bunga yang cantik, atau berubah menjadi pokok pohon yang rimbun dengan buah yang merumpun yang akan bisa membawanya untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dalam menghadapi segala kesulitan.
Biji-biji ini akan memulai perkembangan dan pertumbuhannya dengan memanfaatkan sumber-sumber alami, dan secara bertahap, ia akan bertahan melawan kesulitan dan perubahan yang ada di sekitarnya, berdiri tegak ketika berhadapan dengan topan besar, dingin yang mematikan dan panas yang membakar sehingga ia melahirkan bunga-bunga yang cantik, atau berubah menjadi pokok pohon yang rimbun dengan buah yang merumpun yang akan bisa membawanya untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dalam menghadapi segala kesulitan.
Untuk menghasilkan seorang serdadu yang kuat dan kokoh di medan perang, para tentara dan serdadu harus dibawa ke medan-medan perang buatan, dan meninggalkan mereka di dalam keadaan yang sulit, seperti kehausan, kelaparan, dingin, panas dan kondisi-kondisi kritis, sehingga mereka menjadi serdadu yang kuat dan matang. Inilah yang dinamakan dengan rahasia dari ujian Ilahi.
Di tempat lain, Al-Qur’an menjelaskan hakikat ini: “… dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada di dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang berada di dalam hatimu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 154)
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. memberikan penjelasan yang penuh makna tentang filsafat ujian Ilahi ini dalam ungkapannya: “Dan meskipun Allah lebih mengetahui keadaan spiritual para hamba-Nya daripada mereka sendiri, akan tetapi Dia tetap memberikan ujian kepada mereka untuk menampakkan perbuatan-perrbuatan baik dari perbuatan yang buruk dan sebaliknya, dan ini merupakan tolok ukur perolehan pahala atau siksa.”
Yaitu, karakter yang berada dalam diri insan tidak bisa secara sendiri dijadikan sebagai olok ukur untuk mendapatkan pahala atau siksa. Karakter ini hanya akan bisa dijadikan tolok ukur untuk pahala atau siksa ketika telah diimplementasikan ke dalam perbuatan manusia.
Allah Swt memberi cobaan kepada para hamba-Nya supaya mereka memanifestasikan bakat dan potensi terpendam mereka dalam bentuk perbuatan, dan mengembangkannya menjadi aktual, sehingga bisa ditentukan apakah mereka berhak untuk mendapatkan pahala ataukah siksa.
Allah Swt memberi cobaan kepada para hamba-Nya supaya mereka memanifestasikan bakat dan potensi terpendam mereka dalam bentuk perbuatan, dan mengembangkannya menjadi aktual, sehingga bisa ditentukan apakah mereka berhak untuk mendapatkan pahala ataukah siksa.
Apabila tidak ada ujian dari Allah Swt., potensi ini tidak akan pernah aktual, dan wujud sebuah pohon yang berbentuk seorang manusia tidak akan pernah membuahkan perbuatan yang nyata. Inilah filsafat cobaan Ilahi dalam logika Islam.
100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman
- Bersyukur apabila mendapatkan nikmat.
- Bersabar apabila mendapat kesulitan.
- Bertawakal apabila mempunyai rancangan/program.
- Ikhlas dalam segala amal perbuatan.
- Jangan membiarkan hati tenggelam dalam kesedihan.
- Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan.
- Jangan berputus asa dalam menghadapi kesulitan.
- Jangan bersusah hati dengan kekayaan orang.
- Jangan iri hati atas kejayaan orang.
- Jangan sombong kalau memperoleh kejayaan.
- Jangan tamak kepada harta.
- Jangan terlalu bercita-cita tinggi kepada sesuatu kedudukan.
- Jangan hancur karena kezaliman.
- Jangan goyah karena fitnah.
- Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri.
- Jangan campuri harta dengan harta yang haram.
- Jangan sakiti perasaan ayah dan ibu.
- Jangan usir orang yang meminta-minta.
- Jangan sakiti anak yatim.
- Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar.
- Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil.
- Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid).
- Lakukan sholat dengan ikhlas dan khusyu.
- Lakukan sholat fardhu di awal waktu.
- Biasakan sholat malam.
- Perbanyakkan berzikir dan berdoa kepada Allah.
- Lakukan puasa wajib dan puasa sunah.
- Sayangi dan hormat fakir miskin.
- Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah.
- Jangan marah berlebih-lebihan.
- Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan.
- Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah.
- Berlatihlah memusatkan pemikiran.
- Penuhi janji apabila telah dilafazkan dan mintalah maaf apabila ada sesuatu sebab yang menghalanginya.
- Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan syaitan dan iblis.
- Jangan percaya ramalan manusia.
- Jangan terlampau takut miskin.
- Hormatilah setiap orang.
- Jangan terlampau takut kepada manusia.
- Jangan sombong, takabur dan besar kepala.
- Hormatilah tetangga.
- Berlakulah adil dalam segala urusan.
- Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah
- Bersihkan rumah dari patung-patung berhala.
- Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran.
- Perbanyak silaturahmi.
- Tutup aurat menurut anjuran Islam.
- Bicaralah secukupnya.
- Berkeluargalah kalau sudah siap segala-galanya.
- Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu.
- Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur.
- Jauhkan diri dari penyakit-penyakit batin.
- Sediakan waktu untuk beribadah dengan keluarga.
- Makanlah secukupnya, tidak kekurangan dan tidak berlebihan.
- Hormatilah kepada guru dan ulama.
- Sering-seringlah bershalawat kepada nabi.
- Cintai keluarga Nabi S.A.W.
- Jangan terlalu banyak hutang.
- Jangan terlampau mudah berjanji.
- Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara.
- Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti berbohong.
- Bergaul lah dengan orang-orang shaleh.
- Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar.
- Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu.
- Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita.
- Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi.
- Jangan membenci seseorang karena faham dan pendirian mereka.
- Jangan benci kepada orang yang membenci kita.
- Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan.
- Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan.
- Jangan melukai hati orang lain.
- Jangan biasa berkata dusta.
- Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian.
- Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab.
- Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.
- Hormati orang lain yang lebih tua dari kita.
- Jangan membuka aib orang lain.
- Lihat orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita.
- Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana.
- Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan.
- Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya.
- Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara.
- Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain.
- Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara.
- Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa.
- Hargai prestasi dan pemberian orang.
- Jangan habiskan waktu untuk sekadar hiburan dan kesenangan.
- Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan.
- Sediakan waktu untuk beribadah yang sesuai dengan norma-norma agama dan keadaan diri kita.
- Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan badan atau mental kita menjadi terganggu.
- Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana.
- Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita.
- Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina.
- Jangan cepat percaya kepada berita buruk mengenai rekan kita, sebelum diperiksa kebenarannya.
- Jangan menunda melaksanakan tugas dan kewajiban.
- Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan.
- Jangan memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri.
- Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan.
- Yakinlah bahwa setiap kebaikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan
Sama halnya dengan Bill Gates, Thomas juga bukan Muslim, namun ia memiliki daya juang yang seharusnya dimiliki oleh setiap Muslim. Bukankah Muslim pantang berputus asa dari rahmat Allah Swt?
- Jangan bahagia di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang















